Ironi: Seindah Inikah Dunia Pendidikan Indonesia

Senin malam, 22 Mei 2017, seorang ibu mendekati saya. Saat itu saya sempat kaget. Tidak biasanya ibu itu mendatangi saya. Ibu berbadan mungil itu menceritakan kejadian yang menimpa putrinya di kelas 3 semester 2 ini.

Sejujurnya, hati saya berontak ketika mendengar setiap ceritanya. Saya bertanya-tanya dalam hati, benarkah ini pendidikan di negeriku? Negeri kelahiranku?

Namun, percaya atau tidak, saya harus memercayainya karena adanya berbagai bukti dari cerita sang ibu dan teman-temannya di sekolah yang masih memiliki kepedulian.

Sebutlah nama anak perempuan bermasalah ini Intan. Pada saat kelas 1, Intan memang tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. Boleh dibilang, Intan baru bisa membaca di kelas 2. Tapi, setelah memiliki kemampuan membaca Intan langsung dapat mengejar keterlambatannya.

Sang Ibu menceritakan betapa baik guru di kelas 2 yang begitu sabar membimbing Intan. Hingga di kelas 3 sekarang ini, Intan menghadapi masalah secara bertub-tubi di sekolahnya.

Saya kesal ketika mendengar sang ibu menceritakan anaknya disebut bodoh gurunya di depan murid-muridnya. Sudah terbayang efek negatif dari tindakan guru ini. Intan pasti akan direndahkan oleh teman-temannya.

Ternyata, saya harus banyak beristighfar ketika mendengarkan kelanjutan cerita sang ibu. Di sekolahnya, Intan bukan hanya dikucilkan, tapi juga perutnya ditendang oleh temannya. Bahkan, teman-temannya ini akhirnya me-malak Intan dengan meminta uang bekalnya.

Ketika sang orangtua datang kepada gurunya, gurunya malah kayak orang bingung ketika si ibu menanyakan, “Haruskah anak saya pindah ke SLB.”

Pertanyaan setengah hati itu terlontar begitu saja saking kesalnya dengan perlakuan sang guru terhadap putrinya.

Pertanyaan bernada sinis itu mendapat tanggapan yang membingungkan orang tua Intan. Aneh sekali, guru Intan seakan tidak mau melepas Intan dari kelasnya. Pada ujungnya, gurunya Intan meminta agar orang tua Intan segera mengajaknya ke psikolog untuk tes psikologi.

Ibu Intan malam itu benar-benar bingung. Dia takut kalau tes psikologi itu mahal dan menguras dompetnya. Maklumlah Intan bersekolah di SD Negeri dengan biaya pemerintah atau gratis bagi orang tua.

Ibunya Intan meminta pendapat bagaimana seharusnya dia bersikap. Malam itu saya hanya dapat memberikan pendapat agar ibunya lebih dekat dengan gurunya, insya Allah jika sudah lebih dekat, saling akrab, akan tumbuh rasa sayang yang tak pernah terkira sebelumnya.

Akan sangat tidak mudah memang dalam pelaksanaannya. Tapi, apabila hal ini dibiarkan terus menerus juga akan menjadi sangat tidak baik. Akan ada hal-hal negatif lainnya, apalagi Intan sudah mulai mogok bersekolah, Intan memiliki ketakutan untuk berangkat ke sekolah.

Motivasi yang kuat dari pihak keluarga untuk melakukan perubahan, insya Allah akan berdampak positif pada perubahan yang lebih baik pula.

Sebagai guru yang selama ini mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, saya akui betapa beratnya beban berada di sekolah formal. Selain harus mengajar, harus menuntaskan administrasi kelas dan sekolah, harus mengikuti kegiatan dinas di luar pada saat tertentu, berbenturan dengan masalah pribadi di rumah atau dengan sesama teman, tentunya sebagai manusia, guru pun memerlukan waktu untuk dirinya sendiri.

 

 

Author: nulismulu

Blogger II Youtuber II Buzzer II Affiliate Marketer II Special needs teacher II Writer II Author II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *