Nda Jangan Stress!

Anak kelas 6 SDLB tunagrahita itu tiba-tiba memasuki kelasku dan mengatakan hal yang membuatku bingung. “Bu, Nda sedang stress!”

Nda adalah panggilan sang anak kepada ibunya. Belum sempat berkata apa-apa, anak itu sudah langsung menceritakan sebuah cerita yang membuat saya mengelus dada. Masya Allah, betapa berbahayanya ucapan yang salah yang keluar dari mulut kita. Betapa kita harus berhati-hati dalam berucap meski kita sedang mendapat aneka masalah atau merasakan perihnya kehidupan ini.

“Tadi aku nanya, Nda sedang apa?”

“Diam, Nda sedang stress!”

Sejujurnya, aku tidak mengerti apa maksud perkataannya, tapi aku coba memahaminya. Kukatakan kepadanya agar dia mendoakan ibunya dan terus berbuat baik kepada ibunya.

Anak itu pun keluar kelas dengan ceria. Pada jam istirahat di sekolah, seorang guru lelaki yang kelasnya bersebelahan denganku menceritakan  kembali curhatan anak itu kepada guru yang lain. Maklumlah, kelas di sekolahku tempat mengajar hanya berupa ruangan yang disekat-sekat untuk membedakan kelas satu dengan lainnya dengan guru dan siswa yang berbeda.

Tanpa diminta, guru yang lainnya pun akhirnya menceritakan hal yang sama. Apa yang mereka dengar dari sang anak dengan yang aku dengar benar-benar sama. Bedanya, ada tambahan cerita dari guru lain.

Beberapa guru mengatakan kalau anak itu menceritakan pertengkaran ayah dan bundanya di rumah.

Ya, aku bisa mengerti ketika anak itu mengatakan bundanya stess. Tapi apakah yang dikatakan anak tunagrahita itu sebuah kebenaran ataukah tidak?

Begitu keesokannya aku klarifikasi kepada bundanya, ternyata bundanya baik-baik saja dan tidak ada masalah dengan suaminya. Lantas, apakah anak tunarungu itu berbohong? Bisa iya dan bisa juga tidak.

Terlepas dari itu semua, saya belajar untuk lebih berhati-hati. Betapa harus seorang guru berusaha memerankan karakter baik disemua keadaannya.

Mudahkah?

Tidak!

Sungguh tidak. Saya memerlukan waktu panjang untuk belajar mengenal dan berusaha untuk semakin baik. Bagaimanapun juga, harus ada perbaikan dari segala aspek jika pendidikan seorang anak ingin maju. Orang tua dan guru harus berkolaborasi untuk menanamkan keimanan, ketakwaan, kebaikan, kejujuran dan berbagai karakter positif lainnya.

 

Kisah Sejarah Terlengkap Kearifan Raja-Raja Nusantara (Sejarah dan Biografinya)

Judul Buku : Kisah Sejarah Terlengkap Kearifan Raja-Raja Nusantara (Sejarah dan Biografinya)
Penulis: Soedjipto Abimanyu
Editor: Farel Kurniawan
Tata Sampul : Ferdika
Tata Isi : Fitri Raharjo
Pracetak : Wardi
Pertama kali melihat, memegang, dan memiliki buku Kisah sejarah terlengkap kearifan raja-raja nusantara sejarah dan biografinya ini langsung tercium aroma syurga masa lalu banget. Di cover depan dan belakangnya sudah tergambar jelas gambaran peninggalan masa kejaraan berupa candi-candi.
Sebenarnya, sedari kecil, sejarah adalah pelajaran paling menarik bagi saya. Kakek-kakek saya sering menceritakan tentang sejarah-sejarah yang kurang masuk akal bagi pemikiran saya dan mungkin anak zaman sekarang. Misalnya, cerita perjuangan bangsa Indonesia melawan para penjajah.
Kakek saya menceritakannnya dengan unik. Sungguh tak dapat diterima nalar. Kakek menceritakan tentang pasukan Indonesia yang melawan penjajah di lautan menggunakan kacang hijau. Ketika sang pemimpin pasukan melemparkan kacang hijau, benda mungil itu berubah menjadi pasukan manusia yang melawan para penjajah.
Sekali lagi, sungguh tak masuk akal bagi saya sampai sekarang. Bukan hanya tentang itu saja. Sebagai seorang cucu dari kakek yang menyukai dunia penjelajahan alam, banyak sekali kisah unik yang kakek miliki dan ceritakan kembali. Misalnya saja tentang rumah di tengah laut dan hanya bisa dimasuki oleh-oleh orang dikehendaki.
Adakah? Bisa jadi memang ada karena saya sendiri pernah menyeberangi pantai untuk menuju pura yang ada di arena tanah lot.
O… Ow bercerita tentang sejarah memang asyik. Baiklah kita kembali ke buku yang memesona ini. Buku ini terdiri dari 2 bagian. Bagian 1 berisikan sejarah urutan lengkap kerajaan-kerajaan di Nusantara. Dalam bagian ini tercantum 32 kerajaan termasuk Kesultanan Cirebon, Kesultanan Bima, Kesultanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat. Dalam bagian ini gambaran peta wilayah dan foto beberapa tokoh menjadi salah satu penguat agar pembaca lebih mendalami sejarah kerajaan yang dibacanya.
Sedangkan pada bagian 2 terdiri dari kitab kearifan Raja-Raja Nusantara. Tentunya, hal ini menjadi bagian sangat menarik karena kita bisa mengetahui kondisi masa lalu melalui kitab atau peninggalan yang ada dari suatu kerajaan.
Pada bagian 4 halaman pertama bagian 2 ini, saya langsung terpesona dengan Kutukan Raja Kudungga sebagai salah satu kearifan lokal Kalimantan. Kutukan ini diangkat dari legenda rakyat yang memberikan pesan bahwasannya pelestarian hutan dan pemeliharaan lingkungan hidup menjadi tugas dan tanggung jawab semua orang. Bagi yang mau membaca ceritanya, bisa langsung beli bukunya dan dapatkan pengalaman batin yang sangat dalam dari bacaan yang tak pernah Anda temukan sebelumnya.
Sampai ketemu pada tulisan berikutnya ya.

Cara Tercepat Mengetahui Perjalanan Kehidupan Seorang Tunarungu Dari Semenjak Kecil

Judul    Buku  : Shafa Saatnya Tunarungu Bicara-Perjuangan Penderita Tunarungu Berat untuk bisa Mendengar dan Bicara

Penerbit : Memoira

Membuka halaman pertama buku ini, pembaca akan mendapatkan sambutan hujan testimoni yang begitu beragam. Inti dari testimoni mereka adalah buku tersebut merupakan sebuah buku yang menginspirasi para pembacanya.

Benarkah?

Tentu saya membenarkannya.

Kok bisa? Kenapa?

Buku yang mengambil kisah nyata perjalanan seorang tunarungu ini benar-benar menggambarkan kehidupan yang serba unik dengan keterbatasan dan perjuangannya. Bagi saya sebagai seorang pembaca, buku ini memiliki keunikan tersendiri. Sudut pandang pembicara dalam buku ini adalah seorang anak. Nah, bagaimana seorang anak bisa serba tahu tentang segala hal?

Pada bagian Vonis Sunyi halaman 47: Ini saat dimana semuanya berada dalam taruhan besar. Orangtuaku dipaksa melalui tikungan tajam yang sangat berbahaya, sempit, licin, penuh ancaman, dalam kondisi gelap gulita, penuh luka, patah tulang hatinya. Sedikit saja salah langkah ….

Pengisah buku ini adalah seorang anak tunarungu, meski saya tahu tentu menggunakan jasa penulis profesional untuk menuntaskan karya ini. Tetapi benarkah bahasa seorang anak tunarungu yang masih kecil sudah setinggi itu?

Bahasa yang sungguh bagi saya sebagai pembaca sangat dipaksakan untuk mendapatkan makna namun malah berujung pada kebingungan. Jika pembaca lain sebagai penikmat merasa biasa-biasa saja, saya malah bertanya-tanya pada beberapa bagian tertentu, misalnya saja pada bagian kutipan di atas, patah tulang hatinya benarkah  hati patah tulang?

Ok, terlepas dari keunikan yang membuat saya harus terheran-heran karena adanya kejanggalan-kejanggalan, karya ini layak mendapatkan apresiasi karena menceritakan perjalanan kisah hidup seorang anak tunarungu mulai dari lahir hingga menjejakkan langkah di dunia pendidikan dan juga lengkap dengan uraian-uraian prestasinya yang bisa membuat pembaca mengambil hikmah dari apa yang dibacanya.

 

Cenat-Cenut Matematika (Kisah Paling Mencengangkan dari Pelajaran Matematika)

Judul : Cenat-Cenut Matematika
No. ISBN : 9786020309484
Penulis : Nunu El Fasa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit : Oktober – 2014
Jumlah Halaman : 248
Berat Buku : 500 gr

Pertama kali menerima buku ini, terbersit rasa kecewa. Sejujurnya, buku ini termasuk kategori antologi. Namun, di cover depan hanya tercantum satu nama penulis tanpa ada tambahan lain lagi, seperti misalnya dan kawan-kawan atau lainnya.

Begitupun pada bagian ucapan terima kasih, tak ada sama sekali ungkapan terima kasih kepada teman sesama penulis yang sudah mewujudkan kumpulan kisah matematika ini. Sungguh, ini adalah buku yang membuat saya harus belajar banyak agar tidak mengikuti jejaknya dan menjadi penulis yang memiliki empati. Entah memang sengaja atau tidak, tapi yang saya tangkap, bagi pengumpul naskah, penulis lainnya seakan memiliki arti yang sangat kecil.

Begitupun pada bagian akhir, tentang penulis yang seakan mengangkat satu penulis utama saja sedangkan kontributor lain hanya mendapat satu porsi kecil tanpa foto seperti pengumpul naskahnya.

Ok, sejujurnya buku ini adalah buku yang membuat saya kecewa dalam berbagai hal. Namun dari segi isi, buku yang ditulis oleh lebih dari 40 orang ini mengisahkan cerita yang berbeda tentang matematika yang tentunya akan membuat pembaca memiliki pengetahuan berbeda dari apa yang dibacanya.

Apalagi tentunya ada yang baru pertama kali karyanya dibukukan dan merasa bangga melihat karya pertamanya dibukukan. Dan mungkin ada yang memendam kekecewaan seperti saya juga.

Ok, terlepas dari banyak hal yang membuat saya bertanya mengapa begini dan begitu, ada hal menarik dalam buku setebal 234 halaman ini berupa: trik perkalian garis hinggga ribuan dan seterusnya, tips belajar matematika, tips mengajar matematika lebih menyenangkan, dan pastinya isi buku dari penulis yang berbeda memberikan wawasan berbeda pula.

Kukuh Karena Konsep yang Kuat

Sepanjang perjalanan dari Kampoeng Wisata Rumah Joglo Bogor menuju Bandung, hujan mengguyur tanpa henti. Bersyukur saya bisa seperjalanan bersama Bunda Intan. Dalam perjalanan pulang selepas acara #BloggerDay Ulang Tahun Blogger Crony #SehatBersamaSoman, saya mendapatkan hikmah perjalanan hidup para blogger yang sangat berharga dari Bunda Intan Rosmadewi. Salah satunya adalah penggagas dan orang tersohornya Blogger Crony yaitu Mbak Wardah Fajri (panggilan akrab saya Mbak Wawa) ya.

Sejujurnya, dulu saya sering mengikuti kegiatan Kompasiana namun belum begitu mengenal Mbak Wawa. Perjumpaan pertama yang saya ingat adalah ketika Kompasiana mengadakan acara kerja sama dengan PUPR yang memperkenalkan RISHA (Rumah Instan Sehat Sederhana). Itu pun akrabnya saat menjelang acara kegiatan itu usai, alias sudah mau pada pulang sebelum menaiki kendaraan yang akan membawa ke tempat tujuan masing-masing. Dan alhamdulillah dalam beberapa acara berikutnya saya bisa berkenalan lebih dekat dengan Mbak Wawa.

Di dalam bus penuh penumpang yang membelah hujan sepanjang Terminal Baranangsiang Bogor hingga Leuwi Panjang Bandung, Bunda Intan menceritakan sosok inspiratif satu ini. Sosok ini begitu kuat dengan konsepnya hingga mampu menjadi “tokoh” seperti sekarang ini.

Harus saya akui, komunitas blogger itu banyak. Namun belum tentu sekuat dan sekokoh Blogger Crony. Bagaimana tidak? Di usianya yang menginjak tahun kedua dan sekarang menjajaki tahun ketiga, Blogger Crony mampu mengadakan kegiatan milad yang sangat meriah dengan menghadirkan lebih dari 100 blogger. Dan alhamdulillah, meski banyak rintangan hingga menuangkan tulisan ini pun, saya memiliki kesempatan menjadi salah satu penggembira di acara tersebut. Hhee. Tinggal otak-atik tulisan nih untuk membagikannya agar lebih banyak yang mendapatkan informasi mengenai kesehatan, kepenulisan, dan dunia blogger (tunggu ya!)

Uniknya, Blogger Crony mengundang beberapa komunitas blogger lainnya yang akrab di telinga saya dan ada juga yang rasanya masih asing di telinga, seperti: Asinan Blogger (kalau tidak salah), Blogger Perempuan, KEB (Kumpulan Emak-Emak Blogger) dan lainnya.

Wooow, sudah terbayang, kan, kemeriahannya?

Sayang sekali, sebelum acara tuntas saya harus sudah meninggalkan tempat kegiatan. Namun, tak apalah karena rasanya 80% acara sudah saya ikuti. Minggu, 19 Maret 2017 itu saya benar-benar bersyukur bisa berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan. Meski tentunya belum bisa memberikan yang terbaik, tapi saya sudah berusaha menjadi penggembira terbaik. Hhee.

Ok, kita balik lagi ke inti cerita. Dalam dinginnya perjalanan di dalam bus, saya baru menyadari sekaligus mengiyakan pernyataan Bunda Intan, kalau Mbak Wawa itu punya konsep yang kuat hingga Blogger Crony bisa berdiri tegak seperti sekarang. Dan satu hal yang rasakan betul bahwa sosok satu ini begitu rendah hati. Bagaimana tidak? Ya tentu saja ada alasannya. Salah satunya dengan mengundang komunitas blogger lainnya di acara ulang tahun Blogger Crony.

Boleh dibilang, saya admin salah satu komunitas blogger, namun penggagasnya sendiri terkesan acuh dan malah sebentar-sebentar minta para pengurusnya untuk mengeluarkan ide ini itu, sementara tuntutannya begitu banyak dan terkesan kalau penggagas itu menyerahkan urusan komunitasnya kepada para pengurus. Jujur, saya jengah dan memilih menjadi silent reader saja. Dan merasa lebih baik mengembangkan komunitas tersendiri yang fokus untuk menerbitkan karya penulis. Alhamdulillah, saat ini bersiap menerbitkan karya kedua dan ketiga. (Eh, kok jadi curhat ya! L)

Kerja keras dan konsep yang jelas serta kuat, memang tidak pernah berkhianat pada hasil yang memuaskan. Setidaknya begitulah pendapat saya untuk pertama kalinya mengikuti kegiatan kemeriahan ulang tahun Blogger Crony pada Maret ini. Tentunya, segala kemeriahan ini tidak lepas dari sosok pemimpin seperti Mbak Wawa. Apalagi deretan blogger yang membersamainya adalah blogger-blogger luar biasa. Sudah terlukiskan dengan jelas keindahan warna-warni masa depan Blogger Crony.

Happy Milad Blogger Crony. Acara luar biasa yang mempertemukan saya dengan sosok-sosok luar biasa menginspirasi dan juga perjalanan luar biasa yang tak terduga sebelumnya. Sukses selalu untuk semua di Blogger Crony.

Eksis di Media Sosial Demi Anak-Anak Tercinta

Dalam acara #BloggerDay syukuran miladnya Blogger Crony, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga, salah satunya bahwa eksistensi kekinian bukanlah milik remaja masa kini semata. Ada beberapa blogger yang begitu kuat bereksistensi karena keadaan hingga kini meski masa yang mereka lampaui telah begitu lama dalam kehidupan dunia ini. Misalnya: Bunda Siti istri Pak Nur Terbit yang sudah terkenal di jagat kepenulisan. Dan salah satunya seseorang yang sangat dekat dengan saya, Bunda Intan Rosmadewi yang telah memiliki beberapa cucu.

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari Bunda yang memiliki putra putri dengan beragam karakter ini. Dan pada hari Minggu, 19 Maret 2017, saya menjadi tahu alasan Bunda Intan terjun ke dunia media sosial, salah satunya karena demi mengikuti perkembangan anak-anak tercinta.

Bunda Intan pernah mendapatkan pengalaman pahit ketika putrinya kabur entah ke mana. Dan saya rasa, bukan hanya Bunda Intan yang pernah mengalami kejadian kurang mengenakkan model ini. Kecenderungan remaja sekarang yang maaf sekali, “serba instan” dengan dunia serba cepat, tuntutan pun serba cepat dan harus kekinian, membuat kita tentu saja sering mendengar dan melihat banyak berita di acara tayangan televisi betapa banyak kejanggalan para remaja di masa kini. Salah satunya adalah penculikan yang dilakukan para oknum yang tidak bertanggung jawab dan ingin mengambil keuntungan tertentu. Beberapa bulan atau tahun ke belakang, sebelum acara televisi marak oleh berita politik, banyak sekali berita tersebar penculikan bayi hingga penculikan para remaja gaul yang intens menggunakan media Facebook.

Tak tanggung-tanggung, bahkan sampai banyak berita mereka yang diculik harus meninggalkan alam fana ini. Tentunya, hal ini membuat kita harus lebih mewawas diri. Ada apa dengan pergaulan anak masa kini? Bagaimana sikap orangtua seharusnya mengimbaninginya?

Salah satu cara yang dilakukan Bunda Intan ini sebenarnya hampir sama dengan cara yang dilakukan beberapa orangtua yang saya kenal. Bedanya, Bunda Intan berhasil menjadi sosok inspiratif dengan ketekunannya di media sosial.

Berawal dari perhatiannya untuk mengimbangi kehidupan putra-putrinya sekaligus mengetahui keadaan mereka di jejaring sosial, Bunda Intan kini menjadi seorang blogger produktif. Karya-karyanya tersebar luas di Kompasiana. Harus saya akui, Bunda satu ini konsisten dalam menuangkan karya tulisnya. Mungkin agak berbeda dengan saya yang agak lambat karena terhambat banyak alasan. Namun secara pribadi, tentunya Bunda Intan menginspirasi saya agar saya lebih konsiten lagi dalam membagikan karya tulis.

Bagaimana dengan Anda? Semoga sosok Bunda Intan ini menginspirasi Anda juga.

Cara Membatalkan Pertemanan yang Belum Dikonfirmasi

Pernah ngerasa enggak sih enggak enak kalau pertemanan kita enggak dikonsfirmasi. Nah, ternyata bisa kita batalkan lho. Caranya gampang banget, tinggal klik link di bawah ini:

https://m.facebook.com/friends/center/requests/outgoing

Terus klik batalkan. Gimana? Asyik, kan, kamu bisa menyelesaikan masalah sendiri.

Masih Saja Merasa Salah Jurusan

Kalau dilihat, mungkin tidak ada yang menarik dengannya. Dih, tinggi saja enggak sampai 150 cm, warna kulitnya agak gelap meski masih bisa dibilang kecokelat-cokelatan, rambutnya panjang tertutupi hijab. Dia itu paling malas kalau harus menyisir rambut. Biasanya sih, dia tinggal mengikat rambut panjangnya menjadi beberapa bagian, dan taraaa rambutnya tak kusut meski tak pernah disisir.

Hasil gambar untuk oprah winfrey

(Sumber Foto: http://www.scoopnest.com/user/MikeSchiemer/821054590003113984)

Dia itu memang cuek beneran. Itu sih terhadap dirinya sendiri. Buktinya saja, kamarnya selalu berantakan, enggak ada rapi-rapinya sama sekali. Padahal dia itu cewek lho.

Beda kalau urusan dengan orang lain, dia perhatian dan cukup supel dengan siapapun. Bahkan boleh dibilang dia itu jahil dalam beberapa hal. Itu sih bagi yang sudah akrab dan mengenalnya dengan baik.

Dia pernah tertegun ketika menyadari dirinya begitu berbeda. Seorang operator mesin atau boleh dibilang pengasuh mesin di sebuah perusahaan Jepang, kini menjelma menjadi menjadi seorang pengasuh anak, itu sih sebutan dia sendiri. Padahal sebenarnya dia itu banyak yang menyebutnya guru. Ya, pada saat ini dia seorang guru sukwan atau honor di SLB (Sekolah Luar Biasa) yang ada di Bandung.

Kebayang enggak sih orang jahil jadi guru untuk anak-anak SLB. Hmmm, apa jadinya ya? Ups, tapi dibalik jahilnya itu sebenarnya dia itu orangnya agak malas sih, tugas saja dikerjakan menjelang deadline atau malah sering tidak jadi mengerjakannya dan harus mengelus dada, yah kelewatan deh. Dia itu paling senang kalau yang namanya jalan-jalan. Jadi, sekali lagi ya guru itu dia rasa bukan bidangnya.

Sering banget lho dia menyesal kenapa tidak mengikuti saran dosennya untuk kuliah di jurusan bimbingan konseling atau psikologi? Sebenarnya, sejak SMP dia sudah tertarik dengan buku-buku psikologi. Namun entah kenapa ketika sampai di Gedung Daksinapati Universitas Negeri Jakarta, dia memilih jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB)

So far, ya sudahlah ya! Mau bagaimana lagi sih? Toh dia juga sudah menikmati dunia barunya sebagai guru anak-anak tunarungu atau tidak bisa mendengar pada awalnya. Itu sih pada awalnya. Tapi, kini dia menyesal tuh masuk dunia pendidikan satu ini. Pasalnya, sekarang dia harus mengajar berbagai macam jenis kebutuhan siswa dalam satu rombel.

Haduuuh, dia enggak pernah membayangkan harus mengajar anak autis yang pekerjaannya meludahi siapa saja, mengajar anak tunadaksa yang terus-terusan ngiler dan bikin perut mual sampai dia muntah beneran, mengajar anak tunagrahita, dan juga tunarungu dalam satu kelas.

Gara-gara hal seperti itu tuh dia sering banget merasa salah jurusan. Meski demikian, tetap saja dia di dunia satu itu. Bukan karena terlanjur basah sih tapi memang sudah tumbuh kesadaran dalam dirinya untuk melakukan sesuatu yang lebih untuk orang lain meski enggak enak buat dianya.

 

Oh, no!

 

#blogtobook