Tarhib Ramadhan, Mei 2017 (Mengingatkanku untuk Berorientasi Akhirat)

Alhamdulillah, bahagia rasanya bertemu kembali dengan Ramadhan. Meski diri masih merasa belum memiliki perbaikan signifikan, namun momen bulan suci ini semoga semua amal kebaikan semakin meningkat.

Sedih rasanya ketika saat ini tersadar dengan kegiatan yang bertumpuk dan bertubi-tubi sementara bagaimana dengan ibadahku?

Bandung-Jakarta pulang pergi seakan momen yang begitu biasa. Padahal jika menggunakan akal, jaraknya lumayan jauh kalau harus pulang pergi. Subhanallah, semua kujalani dengan enteng hingga berkali-kali.

Bahkan, ketika paginya harus mengajar di sekolah, kemudian siang menjelang sore harus ke Jakarta untuk pengambilan hadiah sebagai juara vlog SoMan, kemudian malamnya kembali ke Bandung, dan besoknya berkegiatan membimbing anak mengikuti lomba di Pusdai Bandung, semua seakan terasa biasanya.

Hingga ketika mendengar arti kata tarhib yang berarti bergembira menyambut Ramadhan, saya baru tersadar, ke mana saja saya selama ini? Sudah sebanyak apa ibadaha saya?

Perjalanan demi perjalanan yang saya lakukan, apakah selalu saya sertakan Allah Subhanahu wata’ala?

Kesalahan demi kesalahan mungkin sering saya lakukan. Dan pada hari mendampingi siswa mengikuti lomba dalam kegiatan Tarhib Ramadhan, saya tersadar sesadar-sadarnya untuk berorientasi akhirat. Bahkan, dari kejadian ini muncullah ide menuliskan buku kepenulisan yang berorientasi akhirat. Semoga saja buku tersebut dapat terwujud dengan cepat, lancar, dan tanpa kendala. Aamiin

 

Nda Jangan Stress!

Anak kelas 6 SDLB tunagrahita itu tiba-tiba memasuki kelasku dan mengatakan hal yang membuatku bingung. “Bu, Nda sedang stress!”

Nda adalah panggilan sang anak kepada ibunya. Belum sempat berkata apa-apa, anak itu sudah langsung menceritakan sebuah cerita yang membuat saya mengelus dada. Masya Allah, betapa berbahayanya ucapan yang salah yang keluar dari mulut kita. Betapa kita harus berhati-hati dalam berucap meski kita sedang mendapat aneka masalah atau merasakan perihnya kehidupan ini.

“Tadi aku nanya, Nda sedang apa?”

“Diam, Nda sedang stress!”

Sejujurnya, aku tidak mengerti apa maksud perkataannya, tapi aku coba memahaminya. Kukatakan kepadanya agar dia mendoakan ibunya dan terus berbuat baik kepada ibunya.

Anak itu pun keluar kelas dengan ceria. Pada jam istirahat di sekolah, seorang guru lelaki yang kelasnya bersebelahan denganku menceritakan  kembali curhatan anak itu kepada guru yang lain. Maklumlah, kelas di sekolahku tempat mengajar hanya berupa ruangan yang disekat-sekat untuk membedakan kelas satu dengan lainnya dengan guru dan siswa yang berbeda.

Tanpa diminta, guru yang lainnya pun akhirnya menceritakan hal yang sama. Apa yang mereka dengar dari sang anak dengan yang aku dengar benar-benar sama. Bedanya, ada tambahan cerita dari guru lain.

Beberapa guru mengatakan kalau anak itu menceritakan pertengkaran ayah dan bundanya di rumah.

Ya, aku bisa mengerti ketika anak itu mengatakan bundanya stess. Tapi apakah yang dikatakan anak tunagrahita itu sebuah kebenaran ataukah tidak?

Begitu keesokannya aku klarifikasi kepada bundanya, ternyata bundanya baik-baik saja dan tidak ada masalah dengan suaminya. Lantas, apakah anak tunarungu itu berbohong? Bisa iya dan bisa juga tidak.

Terlepas dari itu semua, saya belajar untuk lebih berhati-hati. Betapa harus seorang guru berusaha memerankan karakter baik disemua keadaannya.

Mudahkah?

Tidak!

Sungguh tidak. Saya memerlukan waktu panjang untuk belajar mengenal dan berusaha untuk semakin baik. Bagaimanapun juga, harus ada perbaikan dari segala aspek jika pendidikan seorang anak ingin maju. Orang tua dan guru harus berkolaborasi untuk menanamkan keimanan, ketakwaan, kebaikan, kejujuran dan berbagai karakter positif lainnya.